My Way
We can turn the sprinklers on

Akhlaq (Akhlak)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS al-Baqarah [2]: 183)

Akhlakul karimah menempati posisi penting dalam Islam. Rasulullah Saw pun diutus untuk memperbaiki akhlak. Berkaitan dengan pembentukan akhlak mulia, puasa memiliki pengaruh besar. Dengan berpuasa, umat Islam dididik untuk mengekang dan mengendalikan hawa nafsunya. Pengekangan dan pengendalian hawa nafsu ini menjadi faktor utama terbentuknya pribadi atau masyarakat yang berakhlak mulia.

Tujuan Puasa
Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan istilah “as-shiyam” yang bermakna “menahan”, “berhenti”, atau “tidak bergerak”. Sedangkan bulan diwajibkannya umat Islam berpuasa disebut bulan Ramadhan. Kata Ramadhan berasal dari bahasa Arab, bentuk pluralnya adalah ramadanat atau armida` yang artinya adalah “panas”.

Dalam Al-Quran disebutkan bahwa tujuan puasa adalah menjadi insan yang bertakwa. Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”, (QS al-Baqarah [2]: 183).

Kata “takwa” berasal dari kata “waqa-yaqi” yang berarti menjaga dan menutupi seseorang dari penderitaan atau rasa sakit. Para ulama mendefinisikan takwa sebagai perasaan takut kepada Allah yang akan melahirkan perbuatan yang sesuai dengan kehendak-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Dengan takwa, manusia bisa membebaskan dirinya dari kepedihan hidup, baik di dunia dan akhirat. Dan hanya dengan takwa, manusia bisa merasakan nikmatnya kebahagian hidup di dunia dan akhirat.

Menurut Ibnu Katsir, pengekangan hawa nafsu yang dilakukan kaum Muslim selama menjalani ibadah puasa akan menyempitkan ruang gerak setan menjerumuskan manusia kepada hal-hal yang dilarang Allah. Dengan demikian, kesempatan mencapai derajat muttaqin lebih terbuka di bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan lainnya karena hanya pada bulan inilah Sang Khalik mewajibkan puasa.

Sedangkan Qurthubi mengatakan ibadah puasa lebih utama dibandingkan dengan ibadah lainnya. Menurut Qurthubi, ada dua hal yang membuat puasa lebih utama dibandingkan dengan ibadah lainnya.

Pertama, puasa melarang kelezatan hidup yang sebenarnya dihalalkan, dan larangan ini tidak terdapat dalam ibadah yang lain. Kedua, puasa adalah ibadah yang rahasia. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang bersangkutan dan tentu saja Allah Swt; tidak seperti ibadah lain yang tampak di mata manusia sehingga bisa dibuat-buat dan menimbulkan sikap riya. Dua hal inilah, menurut Qurthubi, yang membuat puasa lebih utama dibandingkan dengan semua ibadah lainnya.

Mendidik Jiwa
Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah Swt berfirman, “Semua ibadah anak cucu Adam untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa untuk-Ku dan Aku-lah yang memberi pahalanya. Puasa adalah perisai. Karena itu, apabila seseorang dari kamu berpuasa janganlah ia berkata kotor dan jangan pula bertengkar,” (HR Bukhari-Muslim).

Seperti yang dikatakan oleh Qurthubi, puasa adalah ibadah rahasia; tidak ada orang lain yang tahu. Jadi, ibadah puasa adalah ibadah yang bersifat pribadi atau personal, bahkan rahasia antara seorang manusia dengan Penciptanya. Kerahasian ibadah puasa ini mengandung hikmah yang sangat luar bisa bagi pendidikan jiwa.

Tidak ada orang yang tahu, misalnya, saat mandi kita minum seteguk air. Tapi kita sadar, dengan malakukan itu, puasa kita menjadi batal. Karena Allah Swt Mahatahu atas segala perbuatan kita dan tidak perbuatan sekecil biji atom pun yang lolos dari pengawasan-Nya.
Jadi, puasa benar-benar melatih jiwa untuk merasakan kehadiran Allah Swt yang Maha Hadir, dan yang mutlak tidak pernah lengah sedikit pun dalam pengawasan-Nya terhadap segala tingkah laku hamba-hamba-Nya. Dapat dikatakan bahwa puasa dalah penghayatan terhadap firman Allah yang menyatakan, “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (QS al-Hadid [57]: 4).

Dengan puasa Allah ingin mendidik kaum Mukmin agar kesadaran yang sedalam-dalamnya akan ke-Mahadir-an Allah tertanam kuat dan kokoh dalam jiwa mereka. Kesadaran inilah yang melandasi ketakwaan atau hakikat dari takwa, dan yang akan membimbing kaum Mukmin ke arah tingkah laku dan baik serta menghindarkan diri dari perbuatan tercela yang dapat merusak diri sendiri dan orang lain. dengan demikian, seseorang yang berpuasa akan tampil sebagai seorang yang berbudi pekerti luhur atau berakhlak karimah.

Akhlakul karimah ini hanya akan terbentuk melalui pengekangan dan pengendalian hawa nafsu. Nah, bulan Ramadhan mempunyai peran signifikan bagi pembentukan akhlakul karimah. Di bulan ini kaum mukmin dituntut untuk mengekang hawa nafsu agar mereka mendapatkan pahala ibadah puasa. Pengendalian hawa nafsu itu pun tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadhan saja, tapi berlanjut pada bulan-bulan setelahnya. Jika hal ini bisa dilakukan, umat Islam bisa tampil sebagai pelaku utama perdamaian dunia.

No Responses to “Akhlaq (Akhlak)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: